7 Fakta dan Mitos Tentang Puasa

Pada hari ini, tepatnya tanggal 18 juni 2015. Umat muslim di Indonesia telah bertemu kembali dengan bulan yang penuh berkah yaitu bulan ramadhan. Bulan yang penuh dengan berkah dan kemuliaan. Didalamnya segenap amalan kita dilipatgandakan pahalanya disisi allah SWT. Ramadhan menjadi bulan yang penuh dengan berkah dan patut diupayakan oleh setiap muslim yang beriman. Di bulan ramadhan inilah seluruh umat islam diwajibkan berpuasa menahan segala bentuk hawa nafsu.

Namun tahukah anda ada mitos mitos yang dipercaya terkait pelaksanaan ibadah puasa. Tentu saja sebagian mitos ini benar, namun ada juga pula yang tak terbukti kebenarannya. Apa sajakah itu? Berikut ini informasinya

Hindari Olahraga Saat Berpuasa Agar Menghemat Alergi


olahraga saat puasa
Yang pertama adalah mitos untuk menghindari olahraga saat berolahraga. Sebagian orang berfikir bahwa saat berpuasa kita tidak perlu berolahraga dan membatasi segala macam aktivitas normal. Akibatnya banyak yang menghabiskan waktu puasa dengan bermalas malasan. Apakah ini benar? Ternyata mitos ini salah besar. Aktivitas fisik saat berpuasa sebaiknya jangan ditinggalkan termasuk olahraga. Yang diperlukan adalah penyesuaian aktivitas olahraganya. Selama berpuasa disarankan agar tetap melakukan olahraga secara rutin dengan aktif selama puasa, tubuh kita akan tetap terjaga sehat.

Banyak Istirahat Saat Berpuasa

Banyak yang mengartikan istirahat dengan tidur siang selama berpuasa. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa tidurnya orang berpuasa adalah ibadah. Sayangnya hal ini membuat sebagian orang yang berpuasa salah kaprah. Banyak orang yang berpuasa kemudian balas dendam dengan durasi yang sangat panjang saat siang karena waktu tidur yang terpotong saat sahur.

Alasan lain, tubuh yang kurang energy membuat badan lemas. Benarkah demikian? Tidur siang memang tidak ada salahnya namun tetap harus dibatasi. Karena faktanya, banyak tidur saat berpuasa pada siang hari justru membuat tubuh terasa lemas dan tak bertenaga. Ketika berpuasa, tubuh dipersiapkan untuk beraktivitas dengan makan pada saat sahur dan buka puasa. Persiapan makan ini sudah cukup untuk energy seharian kala berpuasa dengan aktivitas yang sama dengan hari hari biasa.

Penderita Maag Dianjurkan Tidak Puasa

Saat bulan puasa tiba, banyak penderita maag yang merasa khawatir menjalankan ibadah puasa. Mereka takut penyakitnya akan semakin parah. Ini tidak sepenuhnya benar. Faktanya, tidak semua gangguan maag menjadi halangan untuk berpuasa. parah atau tidaknya penyakit menjadi pertimbangan untuk melakukan ibadah puasa atau tidak.

Ada dua jenis kelainan dalam penyakit ini, yaitu maag fungsional dan maag organic. Pada maag fungsional, lambung dan usus 12 jari dalam keadaan normal tetapi fungsinya terganggu. Maag fungsional ini berhubungan berat dengan factor sikis. Sedangkan pada maag organic, terjadi kelainan anatomis seperti luka pada lambung atau usus 12 jari.

Faktanya, puasa di bulan ramadhan pada penderita maag fungsional justru lebih menyehatkan. Namun untuk penderita kelainan organic, khususnya bagi penderita luka lambung atau usus 12 jari akut sebaiknya tidak berpuasa karena menyebabkan terjadinya pendarahan.

Puasa Menurunkan Berat Badan

Selanjutnya adalah mitos puasa menurunkan berat badan. Faktanya puasa adalah salah satu alternative penurunan berat badan bersifat sementara. Ini artinya menurunkan berat badan hanya mengandalkan berpuasa hanya efektive untuk jangka waktu pendek. Saat berpuasa, tubuh akan tetap menyimpan energy. Disamping itu, secara genetic tubuh manusia memang deprogram untuk memerangi efek dampak berpuasa.

Saat berpuasa, metabolism tubuh juga akan melambat untuk menghemat energy. Akan tetapi ketika anda kembali pada pola makan seperti biasa, justru akan menurunkan metabolism dan menyebabkan anda lebih banyak menyimpan energy. Hal ini mengakibatkan anda mendapatkan kembali berat badan dan berpotensi mengalami kenaikan bobot tubuh. Meskipun anda mengkonsumsi makanan dengan jumlah kalori yang sama sebelum puasa.

Ketika berpuasa, tubuh akan sendirinya menyesuaikan untuk mengurangi nafsu makan. Sehingga anda juga akan merasakan kurang lapar. Pada saat berhenti puasa, hormone nafsu makan anda justru akan menuntut tubuh untuk lebih banyak makan.

Banyak Makan Saat Berbuka Menenangkan Lambung

Banyak orang tua menganjurkan anaknya saat berbuka puasa agar perut kenyang. Tapi, makan banyak saat berbuka justru akan merangsang produksi asam lambung secara mendadak. Jika kekenyangan, seseorang akan mudah bersendawa. Sedangkan penderita maag yang kemampuan membuang gasnya terganggu akan mengalami kembung dan tidak merasa nyaman. Selain itu, selama berpuasa system pencernaan akan beristirahat. Sehingga mengkonsumsi makanan yang banyak sekaligus akan membuat kerja pencernaan menjadi lebih lambat dan berat.

Sahur Atau Tidak, Tetap Lapar Di Siang Hari

Banyak orang melewatkan waktu sahur karena malas bangun, capek atau malas memasak. Mereka juga mengaggap sahur atau tidak, kita yang tengah berpuasa pasti akan merasakan lapar disiang hari. Padahal waktu sahur adalah saat yang tepat untuk mengisi tubuh dengan energy. Termasuk waktu yang tepat untuk mengkonsumsi cairan. Jadi sebaiknya jangan meninggalkan sahur, karena sahur sangat penting dan sama kedudukannya dengan sarapan lebih dini.

Tanpa kita sahur, kadar normal gula darah hanya sanggup bertahan dua hingga 3 jam sejak bangun tidur. Setelah itu, simpanan sumber tenaga mulai menurun drastic. Pilihlah makanan yang banyak mengandung serat seperti sayur dan buah untuk menunda rasa lapar. Dan minumlah dua gelas air putih pada saat sahur. Untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh selama bulan puasa.

Berbuka dengan Yang Manis

Yang terakhir adalah mitos yang paling sering di dengar oleh umat muslim yaitu mitos berbuka dengan yang manis. Orang yang tengah menjalankan ibadah puasa, pastilah dianjurkan untuk berbuka dengan yang manis manis. Bahkan ada yang memandang ini adalah sunnah nabi.

Riwayat menyebutkan, Rosulullah SAW berbuka dengan kurma yang lembek sebelum sholat. Jika tidak terdapat rutab maka beliau berbuka dengan taw atau kurma kering. Jika tidak ada taw, beliau meneguk air. Ketika menyamakan kurma dengan makanan manis, padahal gula pada kurma dengan makanan manis sama sekali berbeda. Kurma adalah karbohidrat kompleks sementara gula yang terdapat pada makanan atau minuman manis adalah karbohidrat sederhana. Jadi perlu diperhatikan saat memilih makanan atau minuman manis saat berbuka perhatikan pula jumlahnya. Berbuka puasa dengan banyak makan makanan manis justru bisa merusak kesehatan. Padahal jelas, Rosulullah SAW justru menghimbau untuk minum air jika tidak ada kurma.

7 Fakta dan Mitos Tentang Puasa | sirot | 4.5