Budaya dan Kesenian Kepulauan Selayar

Kepulauan selayar, pulau yang hanya memiliki luas sekitar 10.000 KM persegi ini ternyata kaya akan nilai – nilai budaya dan kekayaan alam yang sayang akan dilewatkan. Diantaranya adalah manca padang, kongtau, dan bati – bati. Berikut ini informasinya.

Manca Pa’dang dan Kongtau

Manca pa’dang merupakan kesenian bela diri yang menggunakan alat pertahanan diri berupa pedang dan diiringi alat music tradisional yang disebut pui – pui, Alat music pui- pui ini dimainkan dengan cara ditiup. Selain alat music pui – pui ada alat music lainnya seperti gendang dan gong. Ketiga alat music ini dimainkan dengan cara bersamaan sehingga menghasilkan music yang indah.

Keindahan music yang dimainkan ternyata berpengaruh pada setiap gerakan para pemain, karena setiap ketukan sangat berpengaruh pada gerakan para pemain pedang. Oleh karena itu antara pemain manca pa’dang dengan pemain musiknya harus tercipta kerja sama yang baik sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Manca pa’dang biasanya ditampilkan pada upacara pernikahan atau pesta – pesta lainnya seperti upacara penyambutan tamu. Hal ini dipercaya kampung dalam keadaan aman, manca pa’dang sudah ada di selayar sejak kerajaan gantarang lalang bata. Kerajaan yang berkuasa di selayar ketika itu kurang lebih sekitar abad 14 hingga abad 15.

Selain manca pa’dang ada kesenian bela diri yang tak jauh berbeda, namun bela diri yang satu ini tidak menggunakan senjata dan dikenal dengan sebutan kongtau. Kongtau merupakan seni bela diri yang dilakukan oleh dua orang untuk melakukan pertahanan diri tanpa menggunakan senjata dan diiiringi music tradisional yakni gong dan gendang. Kesenian ini sudah ada di selayar sejak tahun 1980an yang dibawa oleh para penjajah.

Seperti halnya manca pa’dang, kongtau pun sering ditampilkan pada pesta pernikahan ataupun penyambutan tamu.

A’tojeng

Kebudayaan yang tak kalah unik dari kepulauan selayar lainnya adalah a’tojeng. A’tojeng yang dalam bahasa selayar berarti ayun, kebudayaan yang satu ini menggunakan sejenis alat berupa ayunan raksasa yang cara memainkannnya diayun sekuat tenaga. Dan alat ayunan pun berbeda pada umumnya, bahan – bahan yang digunakan dalam membuat ayunan raksasa ini diantaranya adalah kayu, bamboo, akar pandita sejenis tumbuhan merambat yang digunakan untuk mengikat setiap ruas pada tiang – tiang setiap ruas, dan tak lupa tali penyangga, Tinggi tiang penyangganya sekitar 5 hingga 9 meter.

A’tojeng ada sekitar tahun 1600an pada saat raja dan pasukannya pulang dari medan perang, Dan untuk mengungkapkan rasa gembira mereka lakukan dengan cara bermain ayunan. Untuk memainkan permainan ini, biasanya dinaiki oleh satu atau dua orang wanita, Dan ada pula dua orang dewasa yang bertugas untuk mengayun yang biasa disebut dengan pengambang.

Tugas sang pengambang ini hanya menarik ayunan sebatas pusan, jika lebih maka si pengambang biasanya mendapat hukuman yakni dengan bernyanyi atau menghentikan permainan ini. dahulu a’tojeng hanya untuk raja dan keturunannya, namun saat ini a’tojeng pun ditampilkan setiap bulan muharram, acara mauled nabi, ketika panen tiba atau mandi bersama – sama.

Karena a’tojeng pun bermakna sebagai ungkapan rasa syukur terhadap tuhan yang maha esa dan juga salah saut bentuk penghormatan terhadap raja – raja terdahulu. Biasanya a’tojeng pun ditampilkan sambil membacakan pantun khas selayar dengan pemain menggunakan baju khas selayar yang dikenal dengan sebutan baju lakhwu.

Tari Pangaru

Selain a’tojeng ada pula tari pangaru, tari pangaru atau disebut juga hanaria pangaru merupakan tarian yang berasal dari desa sanbali, kecamatan pasinamaru kabupaten kepulauan selayar. Tari panaru merupakan tarian magis, karena setiap gerakan para penarinya sangat berbahaya dengan menyayat bagian tubuh dengan menggunakan badig atau senjata tajam khas selayar.

Tarian ini diiringi oleh beberapa alat music tradisional seperti gendang, gong dan alunan pui – pui. Iramanya yang khas dapat membangkitkan emosi para penari hingga tak sadarkan diri, para penari pun menusuk atau menyayat tubuh mereka dengan badig.

Selain penari terdapat juga dayang – dayang, pemimpin adat, dan para pemain music. Dan uniknya mereka menggunakan pakaian khas kerajaan. Tarian ini tercipta karena ungkapan rasa syukur kepada allah SWT dan rasa gembira atas ditemukannya sumber air untuk kehidupan masyarakat sekitar.

Seiring dengan perkembangan jaman, pangaru pun dimodifikasi menjadi sebuah tarian hingga tradisi turun menurun yang senantiasa digelar pada acara – acara pesta.

Battik – Battik

Budaya lainnya yang tak kalah menarik dari kepulauan selayar adalah bati – bati. Bati – bati merupakan tarian tradisional berbalas pantun, diiringi alat music tradisional seperti gambus dan rebana. Dan kesenian bati – bati ini muncul pada tahun 1950, ketika itu kesenian ini dibawa oleh pelaut yang singgah di pantai selayar.

Uniknya, pantun yang dikeluarkan oleh para penyanyi ini diucapkan secara spontan tanpa teks atau naskah. sehingga hanya orang yang mampu berfikir secara cepatlah yang bisa menjadi penyanyi bati – bati. Bati – bati biasanya dinyanyikan semalaman suntuk, mulai dari isyak hingga terbitnya sang fajar.

Bati – bati biasnya digelar pada pesta pernikahan ataupun acara pesta lainnya. Ada yang unik dari kesenian bati – bati ini, keunikannya terlihat dari alat music gambusnya. Diujung alat music ini terdapat cermin yang dulu digunakan untuk melihat lawan jenis, karena waktu itu bertatap muka secara langsung dianggap tabu. Jadilah kini setiap pembuatan gambus terdapat cermin diujungnya.

Budaya dan Kesenian Kepulauan Selayar | sirot | 4.5