Kesenian Kepulauan Selayar

Kepulauan Selayar adalah pulau yang hanya memiliki luas sekitar 10.000 KM persegi ini ternyata kaya akan nilai–nilai budaya dan kekayaan alam yang sayang akan dilewatkan. Kesenian Kepulauan Selayar diantaranya adalah manca Padang, Kongtau, dan bati-bati. Kepulauan Selayar berada di daerah wilayah Sulawesi Selatan dan sekarang menjadi kabupaten Kepulauan Selayar yang ibu kotanya bernama kota Banteng.

Berikut informasi Kesenian Kepulauan Selayar

1. Manca Pa’dang dan Kongtau

Manca Padang seni beladiri Kepulauan Selayar

Manca Padang Seni Beladiri dari Kepulauan Selayar

Manca Padang merupakan kesenian kepulauan Selayar yang berupa bela diri dengan menggunakan alat pertahanan diri berupa pedang dan diiringi alat musik tradisional yang disebut pui–pui. Alat musik pui- pui ini dimainkan dengan cara ditiup. Selain alat musik pui–pui ada alat musik lainnya seperti gendang dan gong. Ketiga alat musik ini dimainkan dengan cara bersamaan sehingga menghasilkan musik yang indah.

Keindahan dan merdunya suara musik yang dimainkan ternyata berpengaruh pada setiap gerakan para pemain, karena setiap ketukan sangat berpengaruh pada gerakan para pemain pedang. Oleh karena itu antara pemain Manca Padang dengan pemain musiknya harus tercipta kerja sama yang baik sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Manca Padang biasanya ditampilkan pada upacara pernikahan atau pesta–pesta lainnya seperti upacara penyambutan tamu. Hal ini dipercaya kampung dalam keadaan aman, Manca Padang sudah ada di Kepulauan Selayar sejak kerajaan Gantarang Lalang bata. Kerajaan yang berkuasa di Kepulauan Selayar ketika itu kurang lebih sekitar abad 14 hingga abad 15.

Kongtau seni beladiri Kepulauan Selayar

Kongtau Seni Beladiri dari Kepulauan Selayar

Selain Manca Padang ada kesenian kepulauan Selayar yang berupa bela diri dan tak jauh berbeda dengan manca Padang. Namun bela diri yang satu ini tidak menggunakan senjata dan dikenal dengan sebutan Kongtau. Kongtau merupakan seni bela diri yang dilakukan oleh dua orang untuk melakukan pertahanan diri tanpa menggunakan senjata dan diiiringi musik tradisional yakni gong dan gendang. Kesenian ini sudah ada di selayar sejak tahun 1980’an yang dibawa oleh para penjajah.

Seperti halnya Manca Pa’dang, Kongtau pun sering ditampilkan pada pesta pernikahan ataupun penyambutan tamu.

2. A’tojeng

Atojeng Kepulauan Selayar

Kebudayaan yang tak kalah unik dari kepulauan Selayar lainnya adalah A’tojeng. A’tojeng yang dalam bahasa Selayar berarti ayun, kebudayaan yang satu ini menggunakan sejenis alat berupa ayunan raksasa yang cara memainkannnya diayun sekuat tenaga. Dan alat ayunan pun berbeda pada umumnya, bahan–bahan yang digunakan dalam membuat ayunan raksasa ini diantaranya adalah kayu, bambu, akar pandita sejenis tumbuhan merambat yang digunakan untuk mengikat setiap ruas pada tiang–tiang setiap ruas, dan tak lupa tali penyangga, tinggi tiang penyangganya sekitar 5 hingga 9 meter.

A’tojeng ada sekitar tahun 1600an pada saat raja dan pasukannya pulang dari medan perang dan untuk mengungkapkan rasa gembira mereka lakukan dengan cara bermain ayunan. Untuk memainkan permainan ini, biasanya dinaiki oleh satu atau dua orang wanita dan ada pula dua orang dewasa yang bertugas untuk mengayun yang biasa disebut dengan pengambang.

Tugas sang pengambang ini hanya menarik ayunan sebatas pusan, jika lebih maka si pengambang biasanya mendapat hukuman yakni dengan bernyanyi atau menghentikan permainan ini. Dahulu A’tojeng hanya untuk raja dan keturunannya, namun saat ini A’tojeng pun ditampilkan setiap bulan Muharram, acara Mauled Nabi, ketika panen tiba atau mandi bersama-sama.

Karena A’tojeng pun bermakna sebagai ungkapan rasa syukur terhadap tuhan yang maha esa dan juga salah saut bentuk penghormatan terhadap raja–raja terdahulu. Biasanya A’tojeng pun ditampilkan sambil membacakan pantun khas selayar dengan pemain menggunakan baju khas Selayar yang dikenal dengan sebutan baju lakhwu.

3. Tari Pangaru

Pangaru Selayar

Selain A’tojeng ada pula tari Pangaru, tari Pangaru atau disebut juga hanaria Pangaru merupakan tarian yang berasal dari desa Sanbali, kecamatan Pasinamaru kabupaten Kepulauan Selayar. Tari Panaru merupakan tarian magis, karena setiap gerakan para penarinya sangat berbahaya dengan menyayat bagian tubuh dengan menggunakan badig atau senjata tajam khas Selayar.</p<

Tarian ini diiringi oleh beberapa alat musik tradisional seperti gendang, gong dan alunan pui–pui. Iramanya yang khas dapat membangkitkan emosi para penari hingga tak sadarkan diri, para penari pun menusuk atau menyayat tubuh mereka dengan badig.

Selain penari terdapat juga dayang–dayang, pemimpin adat, dan para pemain musik. Dan uniknya mereka menggunakan pakaian khas kerajaan. Tarian ini tercipta karena ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT dan rasa gembira atas ditemukannya sumber air untuk kehidupan masyarakat sekitar.

Seiring dengan perkembangan jaman, pangaru pun dimodifikasi menjadi sebuah tarian hingga tradisi turun menurun yang senantiasa digelar pada acara–acara pesta.

4. Bati – Bati

Musik Selayar

Budaya lainnya yang tak kalah menarik dari Kepulauan Selayar adalah bati–bati. Bati–bati merupakan tarian tradisional berbalas pantun, diiringi alat musik tradisional seperti gambus dan rebana. Dan kesenian bati–bati ini muncul pada tahun 1950, ketika itu kesenian ini dibawa oleh pelaut yang singgah di pantai Selayar.

Uniknya, pantun yang dikeluarkan oleh para penyanyi ini diucapkan secara spontan tanpa teks atau naskah. sehingga hanya orang yang mampu berfikir secara cepatlah yang bisa menjadi penyanyi bati–bati. Bati–bati biasanya dinyanyikan semalaman suntuk, mulai dari isyak hingga terbitnya sang fajar.

Bati–bati biasnya digelar pada pesta pernikahan ataupun acara pesta lainnya. Ada yang unik dari kesenian bati–bati ini, keunikannya terlihat dari alat musik gambusnya. Diujung alat musik ini terdapat cermin yang dulu digunakan untuk melihat lawan jenis, karena waktu itu bertatap muka secara langsung dianggap tabu. Jadilah kini setiap pembuatan gambus terdapat cermin diujungnya. Kalau melihat kesenian bati-bati ini mirip dengan kesenian khosidah atau rebana yang berasal dari kota Semarang yang dimainkan jika ada hajatan.

Demikian informasi tentang kebudayaan dan kesenian Kepulauan Selayar yang masih dibudayakan kelestariannya dan juga menjadi salah satu kebanggan budaya Kepulauan Selayar sebagai budaya asli Indonesia.

Baca juga : Kue Tradisional Khas Kepulauan Selayar